Protein merupakan salah satu zat gizi yang sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Tidak heran jika banyak orang tua berusaha memastikan anak mengonsumsi lauk berprotein setiap hari, seperti telur, ayam, ikan, atau daging. Namun, apakah kebutuhan protein yang telah terpenuhi berarti kualitas pola makan anak juga sudah baik?

Hasil penelitian yang dilakukan oleh tim dosen Program Studi Gizi Universitas Alma Ata terhadap 215 anak usia 12–59 bulan di Kabupaten Kulon Progo menunjukkan temuan yang menarik. Penelitian ini menilai kualitas pola makan menggunakan Healthy Eating Index (HEI) yang dimodifikasi sesuai Pedoman Gizi Seimbang dan Angka Kecukupan Gizi (AKG) Indonesia. Hasilnya menunjukkan bahwa sekitar 35,8% anak masih memiliki kualitas pola makan yang rendahmeskipun rata-rata asupan protein mereka telah memenuhi bahkan melebihi AKG. 

Temuan tersebut menunjukkan bahwa kecukupan protein belum tentu mencerminkan kualitas pola makan yang baikPola makan yang sehat tidak hanya ditentukan oleh jumlah protein yang dikonsumsi, tetapi juga oleh sumber protein, keragaman pangan, serta keseimbangan konsumsi berbagai kelompok makanan sesuai Prinsip Gizi Seimbang.

Analisis pola konsumsi dalam penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian anak cukup sering mengonsumsi pangan ultra-proses (ultra-processed foods/UPF), seperti nugget, sosis, bakso olahan, biskuit, dan minuman berpemanis. Di sisi lain, konsumsi buah, sayur, kacang-kacangan, dan produk susu masih relatif rendah. Kondisi ini menyebabkan kebutuhan protein tampak telah terpenuhi, tetapi asupan vitamin, mineral, serat, dan berbagai komponen gizi penting lainnya belum optimal. 

Pangan ultra-proses memang praktis, mudah diperoleh, dan sering kali disukai anak. Namun, apabila dikonsumsi terlalu sering sebagai sumber protein utama, kualitas pola makan dapat menurun. Hal ini karena pangan ultra-proses umumnya mengandung natrium, gula, dan lemak jenuh yang lebih tinggi, sementara kandungan zat gizi mikro dan komponen pangan alami relatif lebih rendah dibandingkan pangan segar atau pangan yang mengalami pengolahan minimal.

Oleh karena itu, sumber protein dalam menu harian anak sebaiknya lebih banyak berasal dari pangan segar, seperti ikan, telur, ayam, daging tanpa lemak, tempe, tahu, dan susu. Selain menyediakan protein, pangan tersebut juga mengandung berbagai vitamin dan mineral yang berperan penting dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak. Konsumsi protein juga perlu diimbangi dengan buah, sayur, dan kelompok pangan lainnya agar kebutuhan zat gizi dapat terpenuhi secara lebih seimbang.

Temuan penelitian ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan memenuhi kebutuhan gizi anak tidak cukup hanya diukur dari banyaknya protein yang dikonsumsi. Orang tua juga perlu memperhatikan kualitas sumber protein dan keragaman makanan yang dikonsumsi anak setiap hari. Dengan membiasakan pola makan yang beragam dan seimbang sejak usia dini, anak tidak hanya memperoleh protein yang cukup, tetapi juga berbagai zat gizi penting yang dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan secara optimal.

Ingin mempelajari ilmu gizi dan pangan lebih dalam? Program Studi S1 Gizi Universitas Alma Ata siap membekali Anda dengan ilmu yang komprehensif.  

Sebagai program studi dengan akreditasi UNGGUL, kurikulum kami dirancang untuk mengupas tuntas ilmu gizi dan pangan terkini. Dibimbing oleh dosen-dosen ahli dan berpengalaman, anda akan belajar untuk menganalisis bukti-bukti ilmiah, merancang diet yang tepat, dan menjadi ahli gizi yang mampu memberikan rekomendasi berbasis science. 

Jadilah ahli gizi profesional yang tidak hanya mengikuti tren, tetapi memahami sains di baliknya. Wujudkan passion Anda di Universitas Alma Ata.

Sumber: https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/41895836/