Di tengah kesibukan kampus dan gaya hidup serba cepat, mahasiswa semakin sering mengandalkan makanan instan atau fast food. Jadwal kuliah yang padat, tugas menumpuk, dan kegiatan organisasi membuat pilihan praktis lebih sering diutamakan dari pada gizi seimbang. Gerai cepat saji, makanan instan, hingga jajanan viral menjadi pilihan karena dianggap hemat waktu dan mudah diakses.

Kebiasaan ini tidak hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga bisa mengurangi apresiasi mahasiswa terhadap pangan lokal, yang sebenarnya merupakan bagian penting dari identitas bangsa. Makanan yang dikonsumsi sehari-hari bukan hanya soal rasa atau kenyang, tetapi juga bisa menjadi refleksi dari nilai-nilai yang diyakini. Dalam konteks ini, memilih pangan lokal dapat menjadi bentuk nyata cinta tanah air sekaligus wujud bela negara.

Faktor yang Mempengaruhi Pilihan Makanan Mahasiswa

Pilihan makanan mahasiswa dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal, yang saling berinteraksi dalam membentuk pola makan sehari-hari.
Faktor Internal:
1. Makanan Instan Jadi Pilihan Saat Mahasiswa Sibuk
Mahasiswa cenderung lebih memilih konsumsi fast food dengan beberapa alasan, yaitu waktu penyajian singkat, sebagai pengganti makanan yang tidak sempat dibawa. Mengkonsumsi fast food cenderung pula dipilih dengan alasan lebih cepat, praktis dan mudah ditemui. Penelitian oleh Arvia & Sumarmi (2024) mengatakan bahwa, sebanyak 70% mahasiswa yang bertempat tinggal dikost lebih sering mengkonsumsi fast food dibandingkan dengan mahasiswa yang tinggal dirumah.
2. Rasa yang Lebih Enak
Makanan instan seperti fast food dan junk food merupakan makanan modern siap saji yang memiliki daya tarik tinggi, khususnya pada mahasiswa. Umumnya, mahasiswa memilih makanan instan seperti fast food atau junk food sebagai makanan yang sering dikonsumsi karena penyajiannya yang cepat, harga terjangkau dan rasa yang enak. Hal ini sejalan dengan jurnal penelitian dari Nikmah (2024), yang menyebutkan faktor remaja lebih suka mengkonsumsi makanan instan seperti fast food dan junk food dari pada makanan lain yang memiliki gizi seimbang karena fast food dan junk food praktis, hemat dan rasanya enak.
3. Faktor Ekonomi
Kondisi ekonomi juga memengaruhi pilihan mahasiswa. Kemudahan akses ke gerai cepat saji, harga yang relatif terjangkau, dan kemampuan finansial yang mendukung membuat fast food semakin mudah dijadikan pilihan utama Defri et al. (2022). Bagi mahasiswa kos atau yang tinggal jauh dari rumah, makanan instan menjadi solusi yang efisien baik dari segi waktu maupun biaya.

Faktor Eksternal:
1. Pengaruh Lingkungan dan Sosialisasi
Lingkungan sosial memiliki peran penting dalam membentuk pola makan mahasiswa. Ajakan teman nongkrong di gerai cepat saji atau kebiasaan berkumpul sambil makan makanan instan membuat mahasiswa lebih mudah mengikuti pola ini. Selain itu, tempat tinggal yang dekat dengan banyak penjual fast food memudahkan akses sehingga mahasiswa lebih cenderung membeli makanan instan dibanding memasak sendiri. Hal ini sejalan dengan penelitian Abdul et al. (2023) yang menyatakan, lingkungan sosial membentuk kebiasaan yang sulit diubah, terutama ketika fast food menjadi bagian dari gaya hidup pertemanan.
2. Peran Media Sosial
Kebiasaan menggunakan media social berpengaruh terhadap   kebiasaan   mengkonsumsi   fast   food. Remaja yang sering menggunakan media social memiliki kecenderungan   mengonsumsi   fast   food yang lebih tinggi. Hal ini sejalan dengan penelitian Fanny et al. (2023), yaitu, melalui media social mahasiswa sering terpapar dengan berbagai informasi dan iklan serta promo tentang makanan cepat saji. Disamping itu pula, melalui media sosial akan lebih mudah mengakses dan memesan makanan termasuk fast food. Dalam hal ini perlu adanya kolaborasi antara media dan ahli gizi untuk menghasilkan kampanye yang meningkatkan kesadaran mahasiswa terhadap pentingnya makanan bergizi dan berakar budaya.

Gerakan Nyata Bagi Mahasiswa untuk Menggeser Tren Makanan Instan
Perubahan pola makan tidak harus besar atau instan. Mahasiswa bisa memulainya dengan langkah sederhana namun berdampak:
1. Memprioritaskan produk lokal saat membeli sayur, buah, atau makanan siap saji dari UMKM sekitar kampus.
2. Mengurangi konsumsi fast food secara bijak, bukan menghilangkan sepenuhnya, sehingga tetap seimbang antara praktis dan sehat.
3. Mengikuti tren kuliner sehat berbasis budaya Indonesia, seperti jamu modern, meal prep dengan bahan lokal, sarapan tradisional bergizi, atau makanan kukusan.
4. Menyebarkan edukasi gizi di media sosial untuk menyeimbangkan arus konten viral yang kurang sehat dan memotivasi teman-teman ikut mengonsumsi pangan lokal.

Gerakan-gerakan kecil ini, jika dilakukan secara konsisten, dapat menciptakan perubahan besar di lingkungan kampus. Pola makan serba instan pada mahasiswa perkotaan mengingatkan kita bahwa cinta tanah air bisa diwujudkan dari hal paling sederhana: dari apa yang kita makan sehari-hari. Memilih pangan lokal, mendukung UMKM, dan meningkatkan literasi gizi bukan hanya soal kesehatan, tetapi juga bentuk nyata bela negara.

Indonesia membutuhkan generasi muda yang sehat, mandiri, dan mencintai identitas bangsanya. Masa depan bangsa tidak hanya dirumuskan di ruang rapat pemerintah, tetapi juga dibangun dari dapur, meja makan, dan kebiasaan sehari-hari masyarakatnya. Dengan menjadi lebih selektif terhadap pengaruh globalisasi dan mengutamakan konsumsi produk lokal, mahasiswa telah menunjukkan rasa cinta tanah air yang sesungguhnya, sebuah kontribusi sederhana namun bermakna bagi keberlanjutan bangsa.

REFERENSI

Abdul, R. H., & Apriadi, S. (2023). Analisis Faktor yang Mempengaruhi Konsumsi Fast Food Pada Remaja. JK: Jurnal Kesehatan, 1(1), 230–237.

Arvia, A. D., & Sumarmi, S. (2024). Perbedaan Konsumsi Fast Food dan Status Gizi Pada Mahasiswa Rantau dan Non Rantau Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga. Jurnal Kesehatan Tambusai.

Defri, I., Pratiwi, Y. S., & Tola, P. S. (2022). Peran Bidang Keilmuan Teknologi Pangan Dalam Upaya Bela Negara. Jurnal Pengabdian Masyarakat Teknik Mesin (Abdi-Mesin).

Fanny, L., Nurmagfira, A. T., & Nadimin. (2023). Penggunaan Media Sosial dan Kebiasaan Mengonsumsi Fast Food Remaja di Kota Makassar. Media Kesehatan Politeknik Kesehatan Makassar, 1. https://doi.org/10.32382/medkes.v18i1

Nikmah, F. (2024). Kebiasaan Konsumsi Fast Food dan Junk Food pada Remaja. Jurnal Ilmiah Gizi Dan Kesehatan (JIGK), 5(02), 57–61.