Kesibukan sering membuat banyak siswa lupa untuk sarapan. Pergi ke sekolah tanpa sarapan menjadi kebiasaan dan sudah dianggap sepele bagi mereka. Padahal, seseorang yang tidak terbiasa sarapan kemungkinan besar akan menurunnya konsentrasi yang berakibat terhadap menurunnya prestasi belajar. Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan, sekitar 44% pelajar Indonesia terutama tingkat SMP dan SMA sering melewatkan sarapan. Hal ini dapat mempengaruhi kerja seluruh organ termasuk otak. Selain itu melewatkan sarapan juga dapat mengakibatkan individu tersebut akan sulit mengikuti pembelajaran.
Bebeberapa faktor yang menyebabkan siswa melewatkan sarapan, orang tua yang terbiasa masak di pagi hari, kebiasaan bangun siang yang membuat sebagian siswa tidak sarapan sehingga memilih untuk langsung pergi ke sekolah. Siswa lebih memilih makan di siang hari dengan porsi yang lebih banyak sebagai alasan karena tidak sarapan di pagi hari. Selain itu, sebagian siswa menganggap sarapan bukan kebutuhan penting, sehingga lebih memilih berangkat ke sekolah tanpa adanya asupan energi. Pola hidup yang berantakan serta kurangnya pengetahuan pentingnya gizi seimbang juga menjadi alasan terbentuknya kebiasaan ini.
Kebiasaan melewatkan sarapan tidak hanya berdampak pada kondisi fisik, tetapi juga memengaruhi kerja otak. Siswa yang tidak sarapan cenderung lebih cepat merasa lelah, mengantuk, dan sulit berkonsentrasi saat mengikuti kelas pembelajaran, terutama pada jam siang Kondisi ini dapat memengaruhi tururnnya daya serap materi dan membuat siswa kurang optimal dalam proses pembelajaran di kelas. Hak ini. akan menjadi kebiasaan terus-menerus yang dapat memengaruhi kualitas belajar dan produktivitas akademik siswa.
Untuk mengatasi kebiasaan melewatkan sarapan, yang diperlukan adalah kesadaran mahasiswa untuk mau dan siap memulai mengubah pola hidup. Sarapan tidak harus yang mewah atau rumit, tapi bisa dimulai dari menu yang sederhana seperti nasi, telur, buah, atau sayur. Selain itu, diperlukan juga dalam mengatur waktu tidur dan persiapan makanan sejak malam hari dapat membantu siswa agar memiliki waktu untuk sarapan. Pihak kampus juga dapat berperan melalui edukasi gizi dan penyediaan pilihan makanan sehat di lingkungan kampus atau kantin untuk mendukung terbentuknya kebiasaan hidup sehat pada siswa
Bela negara tidak hanya soal menjaga keamanan atau menyiapkan atribut. Bela negara juga berarti menyiapkan diri menjadi warga yang sehat,, cerdas, dan siap membangun bangsa. Pelajar Adalah calon penerus bangsa. Ketika generasi muda rajin sarapan, tubuh mereka lebih sehat, otak mereka bekerja optima, dan prestasi belajar meningkat. Ini sebagai bentuk peneraoan sederhana yang bisa dilakukan pelajar dalam melakukan bela negara, agar kelak mamu menjadi SDM unggul bangsa.