Bulan Ramadan menjadi momen istimewa bagi umat Muslim untuk beribadah sekaligus melatih pengendalian diri. Namun, tidak sedikit orang yang melewatkan sahur karena bangun kesiangan, merasa tidak lapar, atau menganggap sahur tidak terlalu penting. Padahal, sahur memiliki peran fisiologis yang sangat penting dalam menjaga keseimbangan energi dan metabolisme tubuh selama berpuasa.
Lalu, apa saja dampak kesehatan jika puasa dilakukan tanpa sahur?
1. Risiko Hipoglikemia (Gula Darah Rendah)
Saat berpuasa, tubuh tidak mendapatkan asupan makanan dan minuman selama kurang lebih 12–14 jam (bahkan bisa lebih, tergantung wilayah). Dalam kondisi normal, tubuh akan menggunakan cadangan glikogen di hati sebagai sumber energi utama.
Namun, jika seseorang tidak sahur, cadangan energi sejak dini hari sudah sangat terbatas. Akibatnya, kadar gula darah dapat turun lebih cepat dan meningkatkan risiko hipoglikemia.
Gejala hipoglikemia meliputi:
– Lemas dan gemetar
– Pusing atau sakit kepala
– Keringat dingin
– Sulit berkonsentrasi
– Jantung berdebar
2. Dehidrasi Lebih Cepat Terjadi
Sahur bukan hanya tentang makan, tetapi juga tentang memenuhi kebutuhan cairan sebelum menjalani puasa seharian. Melewatkan sahur berarti tubuh kehilangan kesempatan terakhir untuk hidrasi sebelum waktu imsak.
Akibatnya, risiko dehidrasi meningkat, terutama jika:
– Cuaca panas
– Aktivitas fisik tinggi
– Konsumsi minuman kurang saat malam hari
Tanda-tanda dehidrasi antara lain:
– Mulut dan bibir kering
– Urine berwarna pekat
– Lemas
– Sakit kepala
– Penurunan konsentrasi
3. Gangguan Metabolisme dan Pola Makan Tidak Seimbang
Tanpa sahur, tubuh berada dalam kondisi defisit energi lebih lama. Kondisi ini dapat memicu:
a. Metabolisme Melambat
Tubuh akan beradaptasi dengan menurunkan laju metabolisme basal untuk menghemat energi. Jika terjadi berulang selama satu bulan, hal ini bisa berdampak pada perubahan komposisi tubuh.
b. Makan Berlebihan Saat Berbuka
Rasa lapar yang berlebihan akibat tidak sahur sering kali membuat seseorang “balas dendam” saat berbuka. Pola ini dapat menyebabkan:
– Asupan kalori berlebih
– Lonjakan gula drastis
– Gangguan pencernaan (kembung, mual)
4. Penurunan Konsentrasi dan Produktivitas
Otak sangat bergantung pada glukosa sebagai sumber energi. Ketika kadar gula darah turun akibat tidak sahur, kemampuan kognitif seperti fokus, daya ingat, dan kecepatan berpikir dapat menurun. Bagi pelajar, mahasiswa, maupun pekerja, kondisi ini tentu dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.
Ingin mempelajari gizi lebih dalam? Program Studi S1 Gizi Universitas Alma Ata siap membekali Anda dengan ilmu yang komprehensif.
Sebagai program studi dengan akreditasi UNGGUL, kurikulum kami dirancang untuk mengupas tuntas ilmu gizi terkini. Dibimbing oleh dosen-dosen ahli dan berpengalaman, anda akan belajar untuk menganalisis bukti-bukti ilmiah, merancang diet yang tepat, dan menjadi ahli gizi yang mampu memberikan rekomendasi berbasis science.
Jadilah ahli gizi profesional yang tidak hanya mengikuti tren, tetapi memahami sains di baliknya. Wujudkan passion Anda di Universitas Alma Ata.