Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, tetapi tugas masih belum selesai, dan perut sudah mulai lapar. Akhirnya, camilan jadi pilihan dan ditemani segelas minuman manis dingin. Besok paginya, karena harus masuk kelas lebih awal, sarapan pun sering dilewatkan. Kalau kebiasaan ini terasa nyaman, kamu disini tidak sendirian.

Menjadi mahasiswa berarti menghadapi banyak perubahan sekaligus seperti tugas menumpuk, mengikuti organisasi, jadwal makan tidak teratur, dan jauh dari orang tua. Menghadapi semua itu, urusan makan mudah terabaikan. Padahal gizi dan pola makan yang baik adalah bahan bakar bagi otak dan tubuh. Bagaimana kondisi gizi mahasiswa sebenarnya dan apa yang bisa kita lakukan? Ketika Makan Mulai Jadi Urusan Sendiri

Pada usia dewasa muda, orang mudah mengonsumsi makanan berlebihan, gaya hidup berubah dan olahraga berkurang. Semua ini dapat mengubah pola makan dan berujung pada masalah gizi (Febytia & Dainy, 2022). Masalah gizi mahasiswa jarang berdiri sendiri, melainkan saling berkaitan dengan gaya hidup dan tekanan sehari-hari.

Perlu diingat pula, masalah gizi tidak selalu berarti badan kurus ataupun gemuk. Ada mahasiswa yang kekurangan asupan ada juga yang berlebih. Keduanya sama-sama masalah. Kurang atau Berlebih, Keduanya Perlu diperhatikan.

Penelitian pada mahasiswa gizi tingkat awal di Universitas Ibn Khaldun Bogor menemukan bahwa 58,3% berstatus gizi normal, namun hampir sepertiganya (30,6%) berstatus gizi gemuk. Sebagian besar (66,7%) memiliki keragaman pangan kategori sedang. Menariknya, tidak ditemukan hubungan bermakna antara keragaman pangan dan status gizi. Para peneliti menyimpulkan bahwa makanan yang beragam tetap harus diimbangi dengan jumlah yang tepat (Putri et al., 2024).

Pelajaran pentingnya yaitu makan “banyak jenis” belum tentu cukup. Porsi dan kualitas tetap menentukan. Perlu dicatat, penelitian ini dilakukan di kampus tertentu dengan jumlah subjek terbatas, jadi angkanya tidak bisa langsung dianggap mewakili semua mahasiswa Indonesia. Sering kali kita mengira menjaga gizi hanya soal menghitung kalori. Padahal, jenis makanan dan gaya hidup ikut berperan. Pada mahasiswa Program Studi Gizi di Universitas Muhammadiyah Jakarta, asupan lemak dan aktivitas fisik terbukti berhubungan signifikan dengan status gizi. Sebaliknya, kualitas tidur, asupan energi total, protein, dan karbohidrat tidak berhubungan dalam penelitian tersebut (Febytia & Dainy, 2022).

Ketika Pengetahuan Belum Jadi Kebiasaan dan Stres akan mengubah pola makan jika semua orang sudah tahu makanan bergizi itu penting, mengapa masalahnya masih ada? Salah satu jawabannya ada pada pengetahuan dan pola konsumsi. Penelitian pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Nusa Cendana mengaitkan pengetahuan gizi dan pola konsumsi dengan status gizi dan menyoroti bahwa masalah gizi mahasiswa berkaitan dengan rendahnya pengetahuan gizi serta pola konsumsi yang tidak seimbang (Charina et al., 2022).

Karena itu, menjadi mahasiswa bukan hanya soal tahu mana makanan yang sehat, tetapi juga belajar bagaimana membuat pilihan yang lebih baik di tengah kesibukan. Tidak harus langsung sempurna, mulai dari makan lebih teratur, menambahkan sayur atau buah, cukup minum, kurangi begadang, dan mengurangi kebiasaan mengandalkan makanan instan juga sudah menjadi langkah kecil yang baik.

Dalam dunia perkuliahan deadline tugas, ujian, dan skripsi sering membuat pola makan berantakan. Tubuh merespon stres dengan menurunkan atau meningkatnya nafsu makan yang secara teori dapat memengaruhi Indeks Massa Tubuh (IMT). Jadi, stres tidak otomatis membuat badan gemuk atau kurus. Tetapi bukan berarti diabaikan. Cara kita mengelola stres, misalnya jam makan yang teratur, tidur cukup, dan bergerak yang tetap sangat diperhatikan.

Cara Praktis untuk Anak Kos dengan Dompet Tipis Makan bergizi tidak harus mahal. Beberapa cara ini bisa dicoba:

Menjadi anak kos memang membuat kita belajar banyak hal, termasuk belajar mengatur pola makan dan menjaga kesehatan sendiri. Di tengah tugas kuliah, kegiatan organisasi, keterbatasan waktu, keinginan untuk berhemat, dan menjaga pola makan mungkin terasa tidak mudah. Namun, bukan berarti kita harus menunggu sampai mengalami masalah kesehatan baru.

  1. Jangan lewatkan sarapan
    Telur rebus, roti dengan selai kacang, atau bubur sudah cukup memberi tenaga.
  2. Ikuti prinsip “Isi Piringku”
    Usahakan setiap makan ada karbohidrat, protein hewani dan nabati, serta sayur dan buah. Tempe dan tahu adalah protein murah yang mudah ditemukan.
  3. Perhatikan porsi makanan bukan hanya variasi
    Seperti pesan penelitian di Bogor, keragaman pangan perlu diimbangi kuantitas yang pas.
  4. Batasi gorengan dan minuman manis
    Bukan dilarang untuk dikonsumsi tetapi hanya sesekali untuk dikonsumsi dan jadikan air putih minuman utama.
  5. Lakukan mie instan sebagai menu darurat
    Jika terpaksa, tambahkan telur dan sayur dan kurangi bumbunya.
  6. Aktivitas fisik setiap hari
    Seperti jalan kaki, naik turun tangga atau bersepeda dan yang terpenting konsisten untuk dilakukan.

Ingin mempelajari ilmu gizi dan pangan lebih dalam? Program Studi S1 Gizi Universitas Alma Ata siap membekali Anda dengan ilmu yang komprehensif.  

Sebagai program studi dengan akreditasi UNGGUL, kurikulum kami dirancang untuk mengupas tuntas ilmu gizi dan pangan terkini. Dibimbing oleh dosen-dosen ahli dan berpengalaman, anda akan belajar untuk menganalisis bukti-bukti ilmiah, merancang diet yang tepat, dan menjadi ahli gizi yang mampu memberikan rekomendasi berbasis science.

Jadilah ahli gizi profesional yang tidak hanya mengikuti tren, tetapi memahami sains di baliknya. Wujudkan passion Anda di Universitas Alma Ata.

Referensi:

  1. Almahdin, M., & Charissa, O. (2023). Hubungan pengetahuan gizi dan tingkat kecukupan zat gizi dengan status gizi. Jurnal Kesehatan Tambusai, 4(3), 2367–2375. https://doi.org/10.31004/jkt.v4i3.16343
  2. Charina, M. S., Sagita, S., Koamesah, S. M. J., & Woda, R. R. (2022). Hubungan pengetahuan gizi dan pola konsumsi dengan status gizi pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Nusa Cendana. Cendana Medical Journal, 10(1), 197–204. https://doi.org/10.35508/cmj.v10i1.6829
  3. Febytia, N. D., & Dainy, N. C. (2022). Hubungan kualitas tidur, asupan zat gizi makro dan aktivitas fisik dengan status gizi mahasiswa Gizi UMJ. Jurnal Ilmu Gizi dan Dietetik, 1(3), 204– https://doi.org/10.25182/jigd.2022.1.3.204-209
  4. Putri, P. A., Batubara, F., Nurmutia, P. A., Saputri, N. A., Assifani, A., Lestari, E. F., Ningsih, G. (2024). Keragaman pangan dan status gizi mahasiswa gizi tingkat awal Universitas Ibn Khaldun Bogor. HARENA: Jurnal Gizi, 4(3), 131–137. https://doi.org/10.25047/harena.v4i3.5322
  5. Shabira, A. Z., Fitri, D. A., Alamanda, L. S., & Aulia, N. Z. (2024). Hubungan stres dengan status gizi pada mahasiswa gizi angkatan 2023 Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Antigen: Jurnal Kesehatan Masyarakat dan Ilmu Gizi, 2(2), 86–91. https://doi.org/10.57213/antigen.v2i2.263
  6. Unit Pelayanan Kesehatan Kementrian Kesehatan RI. (2022). Lama Waktu Tidur yang Dibutuhkan oleh Tubuh. https://upk.kemkes.go.id/new/lama-waktu-tidur-yang-dibutuhkan-oleh-tubuh

Author: Alfiyatun Hasanah