Ketika kita kembali dari kegiatan padat seperti sekolah atau bekerja, biasanya hanya ada satu tujuan yang terlintas di kepala kita, yaitu istirahat. Rebahan di kasur atau disofa sambil scroll aplikasi TikTok atau sosial media yang lain, kemudian dilanjut dengan menonton series, atau bahkan kadang kita bisa mengerjakan tugas sambil tiduran.

Coba kita memikirkan ulang, dari 24 jam yang kita punya setiap hari, sebernarnya berapa lama sih tubuh kita duduk atau bahkan berbaring? Belum ditambah waktu di depan layar untuk hiburan. Kalau dipikir-pikir lagi, total waktu tubuh kita ”mati gaya” mungkin sekitar 10 jam sehari atau bahkan bisa lebih dari 10 jam.

Pola Hidup Sedentari Sebenarnya Apa Sih?

Gaya hidup sedentari (sedentary lifestyle) merupakan fenomena yang semakin banyak kita jumpai pada era sekarang yang dapat berdampak signifikan pada kesehatan. Menurut WHO sedentary lifestyle didefinisikan sebagai jenis gaya hidup di mana seseorang tidak aktif secara fisik dan melakukan sedikit atau bahkan tidak ada gerakan fisik dan/atau olahraga.

Sedentary lifestyle adalah setiap waktu terjaga yang ditandai dengan pengeluaran energi ≤ 1.5 MET (Metabolic Equivalent of Task) dalam posisi duduk, bebaring, atau reclining. Kegiatan sedentari seperti duduk lama di tempat kerja, rebahan, menghabiskan waktu yang lama di depan layar (screen time) dan kegiatan dengan aktivitas fisik minimal.

Dampak Merugikan Apa Yang Dapat Terjadi?

Efek pola hidup sedentari sebenarnya tidak langsung dirasakan oleh tubuh, tetapi jika dilakukan terus menerus dalam waktu yang lama, dampaknya akan terasa nyata. Pada berat badan dan metabolisme tubuh.

Sebuah tinjauan pasca pandemi terhadap remaja indonesia menemukan bahwa durasi sedentari selama 4 jam atau lebih per hari secara signifikan meningkatkan resiko kelebihan berat badan, sindrom metabolik, sampai dislipidemia (gangguan kadar lemak didalam darah). Resiko yang terjadi semakin meningkat ketika dibarengi dengan pola makan yang tinggi akan kalori.

Pada kesehatan mental sering tidak terlihat, padahal sebuah meta-analisis terhadap lebih dari 128.000 partisipan dari 12 studi prospektif menemukan adanya hubungan positif yang signifikan antara perilaku sedentari dan adanya resiko depresi. Tetapi tidak bisa kita langsung simpulkan bahwa rebahan bisa langsung menyebabkan depresi. Menariknya studi yang sama juga menemukan bahwa efek ini lebih terlihat pada orang yang pola sedentarinya pasif secara mental, seperti menonton TV berjam-jam, dan semakin lama waktu rebahan biasanya juga semakin sedikit interaksi sosial.

Pada pola makan, sebuah tinjauan terhadap 53 studi menemukan bahwa pola hidup sedentari, terutama screen time dan menonton TV, berkaitan dengan pola makan yang kurang sehat. Konsumsi buah dan sayur yang lebih rendah, dan konsumsi camilan yang tinggi kalori, minuman manis, dan juga fast food yang lebih tinggi. Sebenarnya sangat masuk akal, karena jika kita rebahan atau lagi scroll sosial media tanpa sadar kita akan mencari camilan untuk dimakan. Nah, dari hal seperti ini yang membuat resiko terjadinya kelebihan berat badan.

Ingin mempelajari ilmu gizi dan pangan lebih dalam? Program Studi S1 Gizi Universitas Alma Ata siap membekali Anda dengan ilmu yang komprehensif.  

Sebagai program studi dengan akreditasi UNGGUL, kurikulum kami dirancang untuk mengupas tuntas ilmu gizi dan pangan terkini. Dibimbing oleh dosen-dosen ahli dan berpengalaman, anda akan belajar untuk menganalisis bukti-bukti ilmiah, merancang diet yang tepat, dan menjadi ahli gizi yang mampu memberikan rekomendasi berbasis science.

Jadilah ahli gizi profesional yang tidak hanya mengikuti tren, tetapi memahami sains di baliknya. Wujudkan passion Anda di Universitas Alma Ata.

Daftar Pustaka

  1. World Health Organization 2020 guidelines on physical activity and sedentary behaviour. 1451– 1462. https://doi.org/10.1136/bjsports-2020-102955
  2. Ekelund, U., Tarp, J., Fagerland, M. W., Johannessen, J. S., Hansen, B. H., Jefferis, B. J., Whincup, P. H., Diaz, K. M., Hooker, S., Howard, V. J., Chernofsky, A., Larson, M. G., Spartano, N., Vasan, R. S., Hagströmer, M., Edwardson, C., Yates, T., & Shiroma, E. J. (2020). Joint associations of accelerometer- – measured physical activity and sedentary time with all cause mortality : a harmonised meta- – analysis in more than aged and individuals.
    1499–1507. https://doi.org/10.1136/bjsports-2020-103270
  3. Huang, Y., Li, L., Gan, Y., Wang, C., Jiang, H., Cao, S., & Lu, Z. (2020). Sedentary behaviors and risk of depression : a meta-analysis of prospective studies. Translational Psychiatry. https://doi.org/10.1038/s41398-020-0715-z
  4. Nurjanah, A., Hasanah, M. K., Abdullah, P., & Kasih, T. (2025). Perilaku Sedentari dan Obesitas Remaja Indonesia : Tinjauan Sistematis Pasca Pandemi 9, 5056–5067.
  5. Tremblay, M. S., Aubert, S., Barnes, J. D., Saunders, T. J., Carson, V., Latimer-cheung, A. E., Chastin, S. F. M., Altenburg, T. M., & Chinapaw, M. J. M. (2017). Sedentary Behavior Research Network ( SBRN ) – Terminology Consensus Project process and outcome. 1–17. https://doi.org/10.1186/s12966-017-0525-8


Author: Artika Nur Fitriyani