Hari ini nilai tukar dolar Amerika Serikat dilaporkan telah menembus Rp18.000. Angka ini memunculkan berbagai kekhawatiran, mulai dari kenaikan harga pangan, barang hingga menurunnya daya beli masyarakat. Di tengah situasi tersebut, pernyataan Presiden Prabowo bahwa “orang desa tidak butuh dolar” kembali menjadi perbincangan.

Dari perspektif gizi, pernyataan tersebut menarik untuk dicermati. Benarkah masyarakat desa dapat tetap bergizi tanpa terpengaruh oleh gejolak dolar? Jawabannya, “ya” dan “tidak”.

Di satu sisi, masyarakat desa memiliki keunggulan berupa akses terhadap pangan lokal. Beras, singkong, ubi, jagung, sayuran, telur, ikan, hingga hasil kebun dapat menjadi sumber pangan bergizi yang tidak bergantung langsung pada dolar. Selama kebutuhan pangan dapat dipenuhi dari sumber daya lokal, kenaikan dolar tidak serta-merta membuat keluarga kehilangan akses terhadap makanan bergizi.

Bahkan, banyak pangan lokal Indonesia yang memiliki nilai gizi tinggi dan harga relatif terjangkau. Tempe, telur, ikan kembung, daun kelor, dan berbagai sayuran lokal mampu menyediakan protein, vitamin, dan mineral yang dibutuhkan tubuh.

Namun demikian, masyarakat desa tidak sepenuhnya kebal terhadap dampak kenaikan dolar. Harga pupuk, pakan ternak, bahan bakar, dan biaya distribusi pangan dapat ikut meningkat. Pada akhirnya, biaya produksi pertanian dan peternakan menjadi lebih mahal, sehingga harga pangan lokal pun berpotensi naik.

Artinya, masyarakat desa memang tidak bertransaksi menggunakan dolar dalam kehidupan sehari-hari, tetapi tetap dapat merasakan dampaknya secara tidak langsung melalui kenaikan harga pangan.

Di tengah kondisi ini, pelajaran penting yang dapat diambil adalah pentingnya “ketahanan gizi berbasis pangan lokal”.Semakin beragam pangan yang dapat diproduksi dan dikonsumsi dari lingkungan sekitar, semakin kuat pula kemampuan keluarga menghadapi gejolak ekonomi global.

Ketika dolar menembus Rp18.000, yang paling dibutuhkan bukanlah kepemilikan dolar oleh masyarakat desa, melainkan kemampuan untuk menghasilkan dan mengonsumsi pangan lokal yang beragam, bergizi, aman, dan terjangkau. Karena pada akhirnya, ketahanan ekonomi harus berjalan seiring dengan ketahanan gizi.

Ingin mempelajari ilmu gizi dan pangan lebih dalam? Program Studi S1 Gizi Universitas Alma Ata siap membekali Anda dengan ilmu yang komprehensif.  

Sebagai program studi dengan akreditasi UNGGUL, kurikulum kami dirancang untuk mengupas tuntas ilmu gizi dan pangan terkini. Dibimbing oleh dosen-dosen ahli dan berpengalaman, anda akan belajar untuk menganalisis bukti-bukti ilmiah, merancang diet yang tepat, dan menjadi ahli gizi yang mampu memberikan rekomendasi berbasis science. 

Jadilah ahli gizi profesional yang tidak hanya mengikuti tren, tetapi memahami sains di baliknya. Wujudkan passion Anda di Universitas Alma Ata.