Sayur merupakan sumber vitamin, mineral, dan serat yang penting untuk mendukung pertumbuhan dan kesehatan anak. Namun, hasil penelitian kami menunjukkan bahwa 77,9% anak prasekolah di wilayah perkotaan Indonesia masih mengonsumsi sayur kurang dari jumlah yang dianjurkan. Temuan ini menunjukkan bahwa rendahnya konsumsi sayur masih menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian bersama.

Banyak orang tua mengira penyebab utama anak tidak makan sayur adalah karena tidak menyukai rasanya. Padahal, penelitian kami menemukan bahwa ada beberapa faktor yang berperan. Salah satunya adalah usia pertama kali anak dikenalkan dengan sayur. Anak yang mulai dikenalkan sayur sebelum usia 12 bulan memiliki peluang 4,38 kali lebih besar untuk mengonsumsi sayur dalam jumlah yang cukup dibandingkan anak yang dikenalkan lebih lambat. Hal ini menunjukkan bahwa masa pemberian MPASI merupakan waktu yang penting untuk membentuk kebiasaan makan sehat.

Selain itu, perilaku makan orang tua juga berpengaruh. Anak yang melihat orang tuanya terbiasa mengonsumsi sayur memiliki peluang sekitar 2,3 kali lebih besar untuk memiliki konsumsi sayur yang cukup. Anak belajar melalui contoh yang mereka lihat setiap hari, sehingga kebiasaan makan sehat dalam keluarga menjadi kunci dalam membentuk pola makan anak.

Faktor yang paling berpengaruh dalam penelitian ini adalah pengetahuan gizi ibu. Ibu yang memiliki pengetahuan gizi yang baik memiliki peluang jauh lebih besar untuk membiasakan anak mengonsumsi sayur dibandingkan ibu dengan pengetahuan yang rendah. Pengetahuan yang baik membantu orang tua memahami pentingnya mengenalkan sayur sejak dini, menyajikannya secara bervariasi, dan tetap menawarkan sayur meskipun anak sempat menolak.

Menariknya, penelitian ini tidak menemukan hubungan yang bermakna antara ketersediaan sayur di rumah dengan konsumsi sayur anak. Artinya, menyediakan sayur saja belum tentu membuat anak mau memakannya. Yang lebih penting adalah bagaimana orang tua mengenalkan sayur sejak dini, memberikan teladan melalui kebiasaan makan sehari-hari, dan membangun suasana makan yang menyenangkan tanpa paksaan.

Membiasakan anak makan sayur memang membutuhkan kesabaran. Namun, dengan mengenalkan sayur sejak masa MPASI, menjadi contoh yang baik, dan terus meningkatkan pengetahuan gizi keluarga, kebiasaan makan sehat dapat terbentuk sejak dini. Investasi sederhana ini akan memberikan manfaat besar bagi pertumbuhan dan kesehatan anak hingga dewasa.

Ingin mempelajari ilmu gizi dan pangan lebih dalam? Program Studi S1 Gizi Universitas Alma Ata siap membekali Anda dengan ilmu yang komprehensif.  

Sebagai program studi dengan akreditasi UNGGUL, kurikulum kami dirancang untuk mengupas tuntas ilmu gizi dan pangan terkini. Dibimbing oleh dosen-dosen ahli dan berpengalaman, anda akan belajar untuk menganalisis bukti-bukti ilmiah, merancang diet yang tepat, dan menjadi ahli gizi yang mampu memberikan rekomendasi berbasis science. 

Jadilah ahli gizi profesional yang tidak hanya mengikuti tren, tetapi memahami sains di baliknya. Wujudkan passion Anda di Universitas Alma Ata.

Sumber: https://e-journal.unair.ac.id/AMNT/article/view/70099