Kopi menyebabkan susah tidur terutama karena kandungan kafein yang menghambat kerja senyawa adenosin di otak. Secara alami, adenosin menumpuk sepanjang hari untuk memberi sinyal pada tubuh bahwa sudah waktunya beristirahat. Kafein memiliki struktur yang menyerupai adenosin, sehingga ia dapat menempel pada reseptor otak dan memblokir sinyal kantuk tersebut, sekaligus memicu pelepasan hormon adrenalin yang membuat tubuh terus berada dalam kondisi siaga.

Selain meningkatkan kewaspadaan, kafein memiliki waktu paruh yang cukup panjang di dalam tubuh, berkisar antara 3 hingga 7 jam. Artinya, separuh dari kandungan kafein yang diminum pada sore hari masih beredar aktif di sistem saraf hingga malam hari. Keberadaan kafein ini menekan pelepasan hormon melatonin, yaitu hormon alami penentu ritme sirkadian yang bertugas memberi tahu tubuh kapan harus tidur.

Efek kafein tidak hanya membuat mata terjaga, tetapi juga mengacaukan struktur tidur dengan mengurangi durasi deep sleep (tidur dalam) yang dibutuhkan untuk pemulihan fisik. Akibatnya, seseorang bisa tetap merasa lelah dan kurang bertenaga saat bangun di pagi hari. Karena itu, menghentikan konsumsi kopi setidaknya 6 jam sebelum waktu tidur sangat dianjurkan agar jam biologis tubuh tetap terjaga.

Ingin mempelajari ilmu gizi dan pangan lebih dalam? Program Studi S1 Gizi Universitas Alma Ata siap membekali Anda dengan ilmu yang komprehensif.  

Sebagai program studi dengan akreditasi UNGGUL, kurikulum kami dirancang untuk mengupas tuntas ilmu gizi dan pangan terkini. Dibimbing oleh dosen-dosen ahli dan berpengalaman, anda akan belajar untuk menganalisis bukti-bukti ilmiah, merancang diet yang tepat, dan menjadi ahli gizi yang mampu memberikan rekomendasi berbasis science. 

Jadilah ahli gizi profesional yang tidak hanya mengikuti tren, tetapi memahami sains di baliknya. Wujudkan passion Anda di Universitas Alma Ata.