Di era digital, perkembangan media sosial semakin pesat dan dapat berpengaruh terhadap perubahan kehidupan masyarakat salah satunya perubahan perilaku makan. Munculnya fibermaxxing yang dipopulerkan melalui platform seperti TikTok dan Instagram menjadi sebuah tren yang berfokus pada asupan serat seperti biji-bijian utuh, kacang-kacangan, buah-buahan, sayuran serta produk pangan fungsional. Fibermaxxing semakin dikenal karena dikaitkan dengan berbagai manfaat kesehatan, terutama dalam mendukung kesehatan pencernaan, meningkatkan rasa kenyang, dan membantu menjaga fungsi metabolisme tubuh.
Serat merupakan bagian pangan berupa karbohidrat lengkap yang terdapat pada dinding sel tumbuhan. Serat memiliki fungsi penting dalam mencegah berbagai penyakit dan menjaga kesehatan, serta berperan penting dalam menjaga gizi yang baik dan seimbang. Sayur dan buah merupakan salah satu sumber serta pangan yang mudah ditemukan pada pangan dan mengingat banyak sekali manfaatnya bagi kesehatan.
Namun, peningkatan perhatian terhadap konsumsi serat melalui tren fibermaxxing juga perlu diimbangi dengan pemahaman yang tepat mengenai jumlah, sumber, dan cara pemenuhannya. Peningkatan konsumsi serat secara berlebihan juga menyebabkan kembung, gas berlebih,sakit perut, kram, sembelit hingga gangguan penyerapan mineral dalam tubuh.
Berdasarkan fenomena tersebut, fibermaxxing menarik untuk dibahas karena tren konsumsi serat yang berkembang melalui media sosial perlu dilihat tidak hanya dari sisi popularitasnya, tetapi juga berdasarkan manfaat dan potensi risikonya bagi kesehatan. Pemahaman yang didukung oleh informasi ilmiah diperlukan agar peningkatan konsumsi serat dapat dilakukan secara tepat dan tidak sekadar mengikuti tren yang berkembang di media sosial.
Munculnya Tren Diet Fibermaxing Di Media Sosial
Fibermaxxing adalah suatu istilah yang merujuk pada kebiasaan pola makan yang memaksimalkan asupan serat (fiber) dalam pola makan sehari-hari untuk mendapatkan manfaat kesehatan yang optimal. Trend Fibermaxing yang dipopulerkan melalui media sosial seperti TikTok dan Instagram menganjurkan konsumsi makanan tinggi serat, seperti biji-bijian utuh, kacang-kacangan, buah-buahan, sayuran, biji-bijian, dan produk makanan fungsional.
Tren fibermaxxing yang meningkat disebabkan oleh meningkatnya pengetahuan tentang kesehatan usus, pengelolaan berat badan, pengaturan gula darah, dan kesehatan jantung. Memenuhi asupan serat berarti mengonsumsi sesuai batas minimal harian sekitar 25-30 gram/ hari dikategorikan baik oleh World Health Organization (WHO), disisi lain dibutuhkan 19-38 gram asupan serat harian untuk masuk kategori baik berdasarkan National Academy of Sciences untuk menjaga fungsi normal pencernaan. Memaksimalkan atau fiber-maxxing adalah tren mengonsumsi asupan serat dalam jumlah yang sangat tinggi (bisa jauh melebihi batas normal dengan anggapan bahwa semakin banyak serat maka akan semakin sehat.
Serat; Sumber, Jenis dan manfaatnya Bagi Tubuh
Serat pangan merupakan salah satu zat yang tidak dapat diserap oleh usus, karena tidak ada enzim yang mampu mengurai serat didalam pencernaan manusia. Serat terdiri dari dua jenis yaitu serat kasar (crude fiber) dan serat makanan (dietary fiber). Serat kasar dapat ditemukan dalam sayur-sayuran dan buah-buahan. Sedangkan, serat makanan banyak terdapat pada makanan sumber karbohidrat, seperti pada kacang hijau, beras, kentang, dan singkong.
Manfaat mengonsumsi makanan berserat pada tubuh adalah memperlancar proses saluran pencernaan, selain melancarkan saluran pencernaan, manfaat serat lainnya adalah mengurangi risiko terkena penyakit konstipasi, kanker kolon, dan obesitas. Makanan dibagi menjadi bentuk larut dan tidak larut, yang ditentukan oleh kelarutannya dalam air atau larutan penyangga.
Serat larut menyiratkan bahwa zat tersebut dapat larut dalam air. Serat tidak larut merupakan kebalikan dari serat larut. Oleh karena itu, sulit untuk difermentasi oleh mikroflora di usus besar; sebagai contoh, selulosa, hemiselulosa, dan lignin. Dampak Serat Bagi Tubuh Akibat Dikonsumsi Berlebihan Konsumsi serat berlebihan menyebabkan beberapa gangguan sistem pencernaan seperti kembung, gas berlebih,sakit perut, kram, sembelit hingga gangguan penyerapan mineral dalam tubuh dan juga menyebabkan terjadinya penyumbatan di usus yang disebut volvulus pada kolon. Selain memengaruhi fungsi pencernaan, asupan serat juga dapat berpengaruh terhadap asupan energi dan pemanfaatan zat gizi dalam tubuh.
Proses pengunyahan yang kaya serat juga berlangsung lebih lama dan dapat meningkatkan rasa kenyang, sehingga keinginan untuk makan dapat berkurang dan asupan energi menjadi lebih rendah. Selain itu, serat dapat menurunkan efisiensi pencernaan dan penyerapan zat gizi karena meningkatkan massa makanan dan mempercepat waktu transist di saluran pencernaan, sehingga waktu yang tersedia untuk proses
pencernaan menjadi singkat.
Fibermaxing Boleh Asal Tidak Berlebihan
Penerapan fibermaxxing sebaiknya tetap memperhatikan jumlah dan cara konsumsi serat agar manfaat yang diperoleh tidak menimbulkan ganggguan kesehatan. Asupan serat perlu ditingkatkan secara bertahap untuk memberi waktu bagi sistem pencernaan untuk beradaptasi, terutama pada individu yang sebelumnya memiliki asupan serat rendah. Peningkatan asupan serat yang terlalu cepat dapat menyebabkann keluhan seperti kembung, produksi gas berlebih, dan kram perut. Oleh karena itu, konsumsi serat juag perlu disertai dengan asupan cairan yang cukup agar serat dapat bekerja dengan optimal.
Ingin mempelajari ilmu gizi dan pangan lebih dalam? Program Studi S1 Gizi Universitas Alma Ata siap membekali Anda dengan ilmu yang komprehensif.
Sebagai program studi dengan akreditasi UNGGUL, kurikulum kami dirancang untuk mengupas tuntas ilmu gizi dan pangan terkini. Dibimbing oleh dosen-dosen ahli dan berpengalaman, anda akan belajar untuk menganalisis bukti-bukti ilmiah, merancang diet yang tepat, dan menjadi ahli gizi yang mampu memberikan rekomendasi berbasis science.
Jadilah ahli gizi profesional yang tidak hanya mengikuti tren, tetapi memahami sains di baliknya. Wujudkan passion Anda di Universitas Alma Ata.
Referensi
- Agsya, E. A., Alia, N. H., Yusuf, Y., & Ariani, A. (2025). Meningkatkan Pengetahuan Konsumsi Serat Dikalangan Mahasiswa Menggunakan Media Audio dan Visual. Jurnal Ilmu Kesehatan dan Gizi. 62–67.
- Amanda, E. N., Anggraini, D., Hasni, D., & Jelmila, S. N. (2022). Gambaran Tingkat Pengetahuan Tentang Pentingnya Konsumsi Serat Untuk Mencegah Konstipasi Pada Masyarakat. Jurnal Kedokteran dan Kesehatan. 9(2).
- Kelurahan Rengas Condong Kecamatan Muara Bulian / Kabupaten Batanghari Provinsi Jambi. 9(2). https://doi.org/10.32539/JKK.V9I2.17010
- Prakash, R., Rai, S., Shukla, A. D., & Shrivastava, S. (2026). The fibremaxing phenomenon : Social media ’ s new healthy eating trend. International Journal of Agriculture and Food Science8(6):80-85.
- Uk, D. S., Makharia, G., Bai, J., Crowe, S., Lee, Y. Y., Oruc, N., Quigley, E., & Sanders, D. (2018). Diet and the Gut. World Gastroenterology Organisation Global Guidelines.
Author: Desty La Jahalia