Nasi merupakan sumber karbohidrat utama masyarakat Indonesia. Namun, banyak yang bertanya apakah nasi panas dan nasi dingin memberikan efek yang berbeda terhadap kadar gula darah. Jawabannya adalah ya, meskipun perbedaannya dipengaruhi oleh proses perubahan pati di dalam nasi.

Ketika nasi didinginkan setelah dimasak, sebagian pati berubah menjadi pati resisten (resistant starch). Jenis pati ini lebih sulit dicerna oleh tubuh sehingga penyerapan glukosa berlangsung lebih lambat dibandingkan nasi yang masih panas. Akibatnya, kenaikan gula darah setelah makan nasi dingin cenderung lebih rendah.

Meskipun demikian, bukan berarti nasi dingin dapat dikonsumsi tanpa batas. Jumlah porsi, jenis beras, serta kombinasi makanan tetap menjadi faktor utama yang memengaruhi kadar gula darah. Mengonsumsi nasi bersama lauk berprotein, sayuran, dan sumber lemak sehat juga dapat membantu memperlambat penyerapan glukosa.

Bagi penderita diabetes atau orang yang ingin menjaga kadar gula darah, nasi yang telah didinginkan kemudian dipanaskan kembali secukupnya dapat menjadi salah satu pilihan. Namun, pola makan secara keseluruhan tetap lebih penting daripada hanya berfokus pada suhu nasi. Konsultasikan dengan ahli gizi untuk mendapatkan rekomendasi yang sesuai dengan kondisi kesehatan masing-masing.

Ingin mempelajari ilmu gizi dan pangan lebih dalam? Program Studi S1 Gizi Universitas Alma Ata siap membekali Anda dengan ilmu yang komprehensif.  

Sebagai program studi dengan akreditasi UNGGUL, kurikulum kami dirancang untuk mengupas tuntas ilmu gizi dan pangan terkini. Dibimbing oleh dosen-dosen ahli dan berpengalaman, anda akan belajar untuk menganalisis bukti-bukti ilmiah, merancang diet yang tepat, dan menjadi ahli gizi yang mampu memberikan rekomendasi berbasis science. 

Jadilah ahli gizi profesional yang tidak hanya mengikuti tren, tetapi memahami sains di baliknya. Wujudkan passion Anda di Universitas Alma Ata.