Ayam goreng, burger, pizza, kentang goreng, mi instan, hingga berbagai makanan yang bisa dipesan hanya dengan beberapa kali klik kini sangat mudah ditemukan. Bagi banyak orang, terutama remaja dan mahasiswa, fast food menjadi pilihan yang praktis ketika sedang sibuk, lapar, atau sekadar ingin berkumpul bersama teman.

Di balik rasa yang gurih, harga yang relatif terjangkau, dan penyajian yang cepat, beberapa jenis fast food dapat memiliki kandungan energi, lemak, gula, dan natrium yang tinggi serta relatif rendah serat. Pola konsumsi seperti ini perlu diperhatikan karena dapat berkaitan dengan berbagai masalah kesehatan, termasuk kelebihan berat badan dan obesitas.

Mengapa Fast Food Begitu Digemari?

Salah satu alasan utama fast food sulit ditolak adalah karena makanan ini menawarkan sesuatu yang sangat sesuai dengan kehidupan modern: praktis. Remaja yang memiliki jadwal sekolah, kuliah, kegiatan organisasi, atau aktivitas lainnya sering kali memilih makanan yang dapat diperoleh dan dikonsumsi dengan cepat.

Penelitian pada remaja usia 19–22 tahun menunjukkan bahwa fast food dan junk food banyak dipilih karena dianggap enak, praktis, hemat, dan mudah diperoleh. Teman juga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kebiasaan konsumsi.

Hal serupa ditemukan dalam penelitian kualitatif terhadap remaja. Penelitian tersebut mengidentifikasi empat faktor yang memengaruhi konsumsi fast food, yaitu pertemanan, media sosial, tempat tinggal, dan uang saku.

Lalu, Apa Masalahnya bagi Kesehatan?

Fast food sebenarnya tidak otomatis berarti “makanan yang harus dihindari”. Yang perlu diperhatikan adalah jenis, jumlah, frekuensi, dan keseluruhan pola makan seseorang.

Beberapa fast food memiliki kandungan kalori, lemak, gula, dan natrium yang cukup tinggi, sementara kandungan serat serta beberapa zat gizi lainnya relatif rendah. Jika dikonsumsi secara berlebihan dan menjadi bagian besar dari pola makan sehari-hari, kondisi tersebut dapat berkontribusi terhadap pola makan yang kurang seimbang.

Penelitian pada siswa SMA Negeri 9 Semarang juga menemukan adanya hubungan antara kebiasaan konsumsi fast food dengan indeks massa tubuh (IMT). Penelitian tersebut melibatkan 80 siswa dan menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara kebiasaan konsumsi fast food dan IMT. Namun, penelitian ini dilakukan pada populasi dan waktu tertentu, sehingga hasilnya tidak dapat langsung dianggap mewakili seluruh remaja.

Temuan tersebut sejalan dengan penelitian yang lebih baru mengenai makanan ultra-proses pada anak dan remaja. Sebuah systematic review tahun 2024 menunjukkan bahwa bukti mengenai hubungan konsumsi makanan ultra-proses dengan kelebihan adipositas pada anak dan remaja masih bervariasi dan heterogen. Beberapa penelitian menemukan hubungan, sementara penelitian lainnya tidak menunjukkan hubungan yang sama. Perbedaan metode pengukuran konsumsi makanan dan indikator status gizi menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan.

Bukan Hanya Soal Makanan

Kebiasaan makan seseorang terbentuk dari banyak hal. Penelitian mengenai konsumsi fast food pada remaja menunjukkan bahwa lingkungan tempat tinggal dapat memengaruhi pilihan makanan. Mahasiswa yang tinggal di kos, misalnya, mungkin lebih sering membeli makanan karena lebih praktis dibandingkan memasak sendiri.

Media sosial juga menjadi bagian dari lingkungan makan masa kini. Paparan iklan makanan dapat membuat produk tertentu semakin dikenal dan menarik perhatian. Ditambah dengan adanya layanan pesan-antar, makanan yang sebelumnya membutuhkan usaha untuk dicari kini dapat dipesan dari tempat tinggal hanya dalam waktu singkat.

Karena itu, mengurangi konsumsi fast food bukan hanya persoalan “punya niat untuk makan sehat”. Lingkungan yang mendukung juga penting. Keluarga, sekolah, kampus, dan masyarakat dapat berperan melalui edukasi gizi serta menyediakan pilihan makanan yang lebih beragam dan seimbang. Penelitian tahun 2025 mengenai tren konsumsi fast food pada remaja juga menekankan pentingnya peran keluarga, sekolah, dan pemerintah dalam edukasi gizi dan promosi gaya hidup sehat.

Jadi, Haruskah Fast Food Dihindari?

Tidak harus sesederhana itu. Makanan merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari, dan menikmati makanan yang disukai sesekali merupakan hal yang berbeda dengan menjadikannya sebagai pilihan utama setiap hari.

Yang lebih penting adalah menjaga keseimbangan. Konsumsi fast food dapat disertai dengan pilihan makanan lain yang lebih beragam, seperti sayur, buah, sumber protein, dan makanan sumber serat. Frekuensi konsumsi juga perlu diperhatikan agar fast food tidak menggantikan makanan bergizi secara terus-menerus.

Pada akhirnya, pilihan makanan tidak perlu didasarkan pada rasa takut. Justru, semakin baik seseorang memahami apa yang dikonsumsi dan bagaimana pola makannya secara keseluruhan, semakin mudah pula membuat pilihan yang sesuai dengan kebutuhan tubuh.

Fast food boleh menjadi pilihan praktis, tetapi jangan sampai kepraktisan membuat kita lupa bahwa tubuh juga membutuhkan makanan yang beragam dan bergizi.

Ingin mempelajari ilmu gizi dan pangan lebih dalam? Program Studi S1 Gizi Universitas Alma Ata siap membekali Anda dengan ilmu yang komprehensif.  

Sebagai program studi dengan akreditasi UNGGUL, kurikulum kami dirancang untuk mengupas tuntas ilmu gizi dan pangan terkini. Dibimbing oleh dosen-dosen ahli dan berpengalaman, anda akan belajar untuk menganalisis bukti-bukti ilmiah, merancang diet yang tepat, dan menjadi ahli gizi yang mampu memberikan rekomendasi berbasis science.

Jadilah ahli gizi profesional yang tidak hanya mengikuti tren, tetapi memahami sains di baliknya. Wujudkan passion Anda di Universitas Alma Ata.

Referensi

  1. Nikmah, F. (2024). Kebiasaan konsumsi fast food dan junk food pada remaja.Jurnal Ilmiah Gizi Dan Kesehatan (JIGK), 5(2), 57-61.
  2. Oktaviani, W. D. (2012). Hubungan kebiasaan konsumsi fast food, aktivitas fisik, pola konsumsi, karakteristik remaja dan orang tua dengan indeks massa tubuh (IMT) (studi kasus pada siswa SMA Negeri 9 Semarang tahun 2012). Jurnal Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro, 1(2), 18843.
  3. Harahap, M. A. R., & Siregar, P. A. (2023). Analisis faktor yang mempengaruhi konsumsi fast food pada remaja. Jurnal Kesehatan, 1(4), 230-237.
  4. Amin, M. M., & Sulaiman, S. (2025). Tren konsumsi fast food dan dampaknya terhadap obesitas di kalangan remaja perkotaan. Sehat Rakyat: Jurnal Kesehatan Masyarakat, 4(1), 91-103

Author: Zakiyyah Hasna