Pernahkah kamu merasa lebih mudah marah ketika belum makan? Atau saat sedang banyak tugas dan stres, tiba-tiba ingin makann makanan manis, gorengan, atau makanan cepat saji? Mungkin kita sering menganggap hal tersebut sebagai kebiasaan biasa. Padahal, makanan dan kondisi psikologis ternyata memiliki hubungan yang cukup dekat.

Apa Hubungan Makan dengan Kesehatan Mental?

Hubungan antara gizi dan kesehatan mental tidak sesederhana “makanan sehat membuat kita tidak stres”. Kondisi mental seseorang dipengaruhi oleh banyak hal, seperti faktor biologis, lingkungan, pengalaman hidup, hubungan sosial, kualitas tidur, aktivitas fisik, dan kondisi psikologis.

Namun, pola makan menjadi salah satu bagian yang paling penting. Makanan sehat tidak harus mahal dan sulit dibuat. Makanan sederhana seperti nasi, sayur, telur, tempe, tahu, ikan, buah, dan air putih juga dapat menjadi bagian dari pola makan yang baik.

Jangan Hanya Mengejar Kenyang!

Ketika lapar, tujuan pertama kita tentu ingin merasa kenyang. Namun, makanan sebenarnya tidak hanya berfungsi untuk menghilangkan rasa lapar. Tubuh membutuhkan sumber karbohidrat sebagai sumber energi, protein berfungsi untuk pemeliharaan jaringan, lemak dalam jumlah yang sesuai, serta vitamin dan mineral untuk membantu berbagai proses tubuh.

Karena itu, membiasakan diri mengonsumsi makanan yang beragam lebih baik daripada hanya mengandalkan satu jenis makanan.

Hati-hati dengan Diet yang Terlalu Ketat

Saat ini media sosial dipenuhi berbagai informasi mengenai diet dan bentuk tubuh ideal. Ada diet yang melarang karbohidrat, diet yang hanya memperbolehkan jenis makanan tertentu, hingga tantangan penurunan berat badan dalam waktu singkat.

Masalahnya, diet yang terlalu ketat dapat membuat hubungan seseorang dengan makanan menjadi tidak sehat.

Penelitian pada mahasiswa kesehatan menunjukkan bahwa body dissatisfaction atau ketidakpuasan terhadap bentuk tubuh berkaitan dengan aspek perilaku makan yang perlu diperhatikan.

Ketika seseorang terus merasa tubuhnya kurang baik, ia dapat menjadi terlalu fokus pada berat badan, bentuk tubuh atau jumlah makanan yang dikonsumsi. Akibatnya, makan yang seharusnya menjadi kebutuhan tubuh justru dapat menjadi sumber kecemasan.

Gizi Bukan Obat untuk Semua Masalah Mental

Penting untuk memahami bahwa makanan bukanlah obat tungal untuk gangguan kesehatan mental. Ketika seseorang mengalami stres berat, kesedihan berkepanjangan, kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai, perubahan pola tidur atau makan yang cukup ekstrem, atau merasa kesulitan menjalani kehidupan sehari-hari, masalah tersebut tidak cukup ditangani hanya dengan mengubah makanan.

Dengan kata lain, pola makan sehat dapat menjadi salah satu bagian dari gaya hidup yang mendukung kesehatan, tetapi bukan pengganti penanganan kesehatan mental.

Ingin mempelajari ilmu gizi dan pangan lebih dalam? Program Studi S1 Gizi Universitas Alma Ata siap membekali Anda dengan ilmu yang komprehensif.  

Sebagai program studi dengan akreditasi UNGGUL, kurikulum kami dirancang untuk mengupas tuntas ilmu gizi dan pangan terkini. Dibimbing oleh dosen-dosen ahli dan berpengalaman, anda akan belajar untuk menganalisis bukti-bukti ilmiah, merancang diet yang tepat, dan menjadi ahli gizi yang mampu memberikan rekomendasi berbasis science.

Jadilah ahli gizi profesional yang tidak hanya mengikuti tren, tetapi memahami sains di baliknya. Wujudkan passion Anda di Universitas Alma Ata.

Referensi

  1. Zaini, M. (2019). Hubungan stress psikososial dengan status gizi pada mahasiswa kesehatan di Kabupaten Jember. Jurnal Kesehatan, 8(1), 9.
  2. Tekege, M. D., Putri, R. B., Iksan, R. R., & Yeni, R. I. (2026). Tingkat stres dengan binge eating disorder pada remaja di Kelurahan X Jakarta Barat. Jurnal Kesmas Asclepius, 8(1), 257–264.
  3. Agung, Ruwiah, & Paridah. (2022). Hubungan pola makan, tingkat stres, dan durasi tidur dengan status gizi mahasiswa tingkat akhir Universitas Halu Oleo tahun 2021. Jurnal Gizi dan Kesehatan Indonesia, 2(4), 156–160.
  4. Saputra Ui, A., Kasim, V. N. A., & Dumar, B. (2025). Body dissatisfaction dan pengetahuan gizi dengan perilaku makan pada mahasiswa kesehatan. Journal of Telenursing (JOTING), 7(6), 870–878.

Author: Tazqiatun Nafsi